SANGATTA, KALTIM (part 1)

SANGATTA, KALTIM –

Cikal Bakal Kota dengan Tatanan Islami.

 

Lingkungan masyarakat dengan
tatanan Islam didalamnya sudah tentu menjadi dambaan setiap muslim,termasuk
saya sendiri. Meskipun saat di Jakarta saya aktif dalam kegiatan Islam
dikampus, tapi melihat kota yang terletak di timur Kalimantan ini membuat saya
merasa belum apa-apa dalam ‘mewarnai’ lingkungan saya.

Saya sangat beruntung
berkesempatan tinggal di kota ini
meskipun hanya beberapa bulan saja namun kesan yang saya dapatkan sungguh
berbekas dalam hati.

 

Pengalaman Naik Pesawat yang tak terlupakan..

Kurang lebih setahun yang lalu,
setelah 3 minggu sebelumnya suami saya mengucapkan ijab kabulnya di Jakarta sayapun segera diboyongnya kekota ini. Kebetulan saat itu sang suami memang sudah 2 ½ tahum lamanya bekerja di
perusahaan tambang Batubara KPC. Saya yang waktu itu baru saja menyelesaikan
kuliah tidak terlalu memikirkan seperti apa disana nantinya. Malah karena saya
hoby jalan-jalan, saya anggap ini justru kesempatan pertama saya untuk melihat
tanah Kalimantan.

Sesuai tanggal yang ditentukan
dan karena masa cuti suami sudah hampir habis, maka kami pun berangkat menuju Kalimantan dengan pesawat siang. Pertama kalinya saya harus berpisah dari Keluarga membuat
saya dan orangtua terbawa haru. Tapi dengan keikhlasan akhirnya Papa, Mama dan
adik-adik melepaskan saya untuk pergi. Tidak ketinggalan Ibu mertua dan sepupu
pun ikut mengantar sampai ke Bandara Soekarno-Hatta. Suasana haru membuat kedua
ibu kami itu tidak dapat menahan tangis, termasuk saya. Namun hati saya sudah
mantap untuk berangkat. Setelah pamitan dan check-in, kamipun segera menuju
pesawat yang akan membawa kami ke tempat yang baru, dengan hidup yang baru.

Terus terang saya belum pernah
tau bagaimana rasanya naik pesawat. Menurut mama saya pernah naik pesawat, tapi
sewaktu bayi saat dibawa ke kampung mama di pulau Sulawesi,
wah ya gak tau dong gimana rasanya. Akhirnya dengan rasa takut tapi penasaran
campur gembira, saya menaiki pesawat Mandala yang akan mengantar kami ke pulau Borneoitu. Yang tidak bisa saya lupakan adalah saat akan lepas landas. Suara mesin
pesawat ditambah kecepatannya saat take-off membuat saya bergidik dan ketakutan
sampai memegang tangan suami dengan kuatnya. Setelah pesawat sampai di ketinggian,
saya lebih terkagum-kagum manakala saya melihat kebawah, yang terlihat hanya kecil
saja semuanya seperti halnya kita melihat semut.Saya yang takut pada ketinggian
menjadi ngeri bercampur kagum karena dari sinilah saya bisa semakin menyadari
betapa kecilnya kita dibumi Alloh ini dan betapa tidak ada artinya bumi ini
dibandingkan isi alam semesta yang Maha Luas. Pemandangan dari atas melihat
awan dan luasnya langitpun lantas menjadi bahan dzikir kami akan penciptaan
alam.

Perjalanan Jakarta-Balikpapan
memakan waktu sekitar 2 jam. Namun karena perbedaan waktu 1jam maka waktu kami
tiba di Balikpapan hanya berbeda 1
jam dengan waktu keberangkatan di Jakarta.
Alhamdulillah, sampai juga. Mudah-mudah2an ini jadi awal yang baik bagi kami.

 
Transit yang berkesan.

Kota Sangatta terletak di arah
utara dari kota Balikpapan.
Kalau mau lihat di peta, letaknya tepat ada di bawah gambar Kalimantan yang membentuk seperti ‘hidung’.

Setelah tiba di Balikpapan kami masih harus menempuh perjalanan lagi menuju Sangatta. Kira-kira 7-8 jam
bila melewati jalan darat dengan rute lewat Kota Samarinda dan Bontang. Dari
Bontang sendiri hanya 1jam perjalanan saja.Tapi rupanya suami sudah memesan
kursi dengan pesawat casa perusahaan yang perjalanannya hanya 45 menit saja.
Namun karena hari itu kami berangkat hari Ahad maka tidak ada pesawat casa yang
beroperasi, otomatis kamipun harus tinggal di Balikpapan dulu untuk bisa ikut pesawat casa hari Senin jam 6 pagi. Sang suami belum
berani mengajak saya lewat jalan darat, katanya takut saya gak kuat dengan
alamnya. Akhirnya kamipun bermalam di Balikpapan dengan menyewa kamar di penginapan terdekat.

Inilah pertama kali saya
menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Saya punya banyak
kesan dengan kota BalikpapanBalikpapan ini. Meski bukan sebagai ibukota propinsi tapi Balikpapan termasuk kota yang pantas diacungi
jempol dalam hal kebersihan dan keteraturannya. Bahkan sopir-sopir angkutan
disana sangat tertib dan patuh. Pernah saya dan suami hendak makan siang di
salah satu pusat jajan kota yang
bernama Balikpapan Plaza (BP) kamipun naik angkot kecil warna kuning. Karena
terbiasa di Jakarta bisa turun
dimana saja, begitu juga saat kami akan turun. Kami segera menyetop angkot
ketika angkot itu lewat di depan BP karena kebetulan sedang lampu merah. Ketika
saya dan suami sudah turun dan menyodorkan ongkos, sopir angkot itu menegur
kami untuk naik lagi karena di depan lampu merah itu bukan tempat turun naik
penumpang dan merekapun tidak mau melanggar peraturan. Lalu dengan malu kamipun
naik kembali dan benar saja setelah melewati lampu merah tersebut, supir itu
menurunkan kami tepat di halte jalan. Wah! Malu rasanya mengingat
ketidakdisiplinan kami tapi jadi salut loh kita. Selain itu sopir angkot disana
pun tidak suka ngebut dan saling menyalib ketika menyetir. Mereka akan
menjalankan kendaraannya sesuai urutannya tanpa ada yang saling mendahului. So,
Dilarang Saling Mendahului sesama bis Kota mungkin tidak berlaku di kota ini.

Yang menjadi kekhasan kota transit ini adalah kita bisa mencari dan membeli oleh2 khas Kalimantan seperti Lampit dan amplang di satu pusat belanja yang dinamai Kebun Sayur. Di
sini, mulai dari kerajinan pernak-pernik hiasan uniknya, tikar Lampitnya yang
khas sampai makanan kerupuk yang terkenal Amplang bisa kita dapatin. Harganya
pun cukup terjangkau. Misal harga pernak-pernik hiasan gelang dan kalung
berkisar antara 5000 – 20000.

Adajuga batu-batuan khas seperti Kecubung dll yang biasanya dijual batunya saja
satu set atau sudah dalam bentuk perhiasan satu set yang bisa didapat dgn harga
mulai dari 75000 rupiah. Kalau Tikar lampit harganya berkisar antara 25000
sampai 175000 dengan ukuran bervariasi bahkan bentuknya tidak hanya tikar tapi
bisa menjadi perangkat alas piring makan, pajangan dinding dll. Sementara
penjual Amplang langganan suami biasanya menjual amplangnya dengan harga 10000
– 15000 per bungkus.

Setelah 1 malam di Balikpapan,
pada hari Senin subuh kami pun sudah check-in di Bandara Sepinggan Balikpapan
untuk kemudian menuju Sangatta.

 

Damai tapi Panas

Lain naik pesawat ternyata lain
pula naik casa. Pesawat kecil ini memang hanya melayani rute Balikpapan – Sangatta sebagai transportasi bagi pegawai perusahaan tempat suami bekerja.
Daya tampungnya pun hanya sekitar 20 orang plus awak pesawat yang mungkin 3-4
orang saja. Yang unik saat menaiki casa adalah tidak seperti pesawat besar,
suara mesinnya sangat keras melebihi batas toleransi pendengaran hingga bisa
terdengar sampai ke dalam kabin dan memecahkan telinga. Karenanya setiap orang
yang naik pesawat ini wajib menggunakan penutup telinga – disebut earplug - berbentuk
karet busa yang dimasukkan dalam lubang telinga selama dalam perjalanan. Alat
ini akan menahan tekanan udara dan suara mesin dari pesawat tsb. Jika tidak
digunakan maka penumpang dikhawatirkan pecah gendang telinganya.

Ada pengalaman berkesan saya ketika naik pesawat casa ini yaitu saya tidak tau
bahwa selama dalam perjalanan di pesawat kita tidak dianjurkan tidur sampai
pulas. Hal ini terjadi pada saya karena ngantuk yg tidak tertahan. Tapi
beberapa menit tertidur tiba-tiba gendang telinga saya terasa sangat sakit dan
semakin sakit seakan mau pecah rasanya. Mungkin kalau saat itu tidak sadar ada
di ketinggian, ingin rasanya saya lompat keluar. Rupanya tertidur membuat kerja
telinga kita dalam menahan tekanan udara menjadi tidak berfungsi. Inilah yang
menyebabkan telinga menjadi sakit.

Empat puluh lima menit dalam perjalanan casa, akhirnya kamipun tiba di landasan terbang Tanjung
Bara – Sangatta. Lebih cocok disebut landasan terbang karena airport ini memang
kecil dan hanya digunakan oleh pesawat casa ini saja. Alhamdulillah sampai.
Pemandangan yang saya lihat sungguh tidak jauh dari bayangan. Sunyi, terasa
damai tapi Panasnya luar biasa! Mungkin panasnya jakarta
masih kalah. Well, anyway Welcome to the Jungle!

 


 

 

 

Leave a Reply